
Tulisan ini dibuat atas 'sentilan' ceramah dari BJ Habibie yang didokumentasikan oleh detikcom di link
ini. Di akhir berita tertulis,
"Mengenakan setelan jas coklat kotak-kotak, Habibie menuturkan rakyat Indonesia tentunya rindu akan kejayaan industri dirgantara pada tahun 1990-an. Oleh karena itu, perlu adanya wadah sebagai tempat ahli teknologi Indonesia untuk berkarya."
Saya setuju dengan kerinduan rakyat Indonesia yang rindu akan industri dirgantara yang pernah berjaya dengan N250, CN 235, dll. Terutama yang N250 'Gatotkaca', itu adalah momentum yang sangat emosional. Bagaimana tidak, teknologi dirgantara ini bisa dibilang puncak dari semua ilmu-ilmu terkait (fisika, kimia, serta matematika) untuk menyelesaikan kompleksitas yang ditemui. Untuk membuat sebuah pesawat yang bisa terbang, tidak hanya bisa terbang saja, memberikan kenyamanan dan perasaan aman kepada penumpang, tentu tidak cukup hanya dilihat dari kacamata fisika-nya saja, atau dari matematika-nya saja. Bagaimana bisa memproduksi material yang bisa anti-freeze pada ketinggian tertentu, tentunya tidak mudah. Itu baru dari sisi pesawatnya. Apalagi di N250 ini, ada teknologi yang memungkinkan pesawat untuk terbang seperti layaknya mainan remote control. The Indonesian have once proved, they were able to produce such a technology in a plane. Itulah mengapa saya mengatakan N250 'Gatotkaca' adalah suatu momentum yang sangat emosional. Saya yang waktu itu masih SD jadi tahu kalau orang Indonesia bisa membuat pesawat.
Namun, seiring waktu, PT. IPTN (PT. DI) collapse, sampai akhirnya setengah hidup setengah mati seperti sekarang ini. Tentu ini sangat miris. Di Manchester, saya bertemu dengan seorang mantan karyawan PT. IPTN. Saat ini beliau bekerja di Airbus, sebagai Structure analyst. Beliau adalah salah seorang yang terkena dampak collapse-nya PT. IPTN. Saya yakin, banyak orang-orang serupa dengan beliau ini di negara lainnya, yang bekerja pada industri dirgantara asing. It is evidence here, kita punya SDM yang mumpuni, kalau pemerintah memiliki niat untuk membangkitkan lagi industri dirgantara. Tapi, apakah niat itu sudah ada? Kalaupun sudah, sudahkah niat tersebut tertuang dalam rencana pembangunan Indonesia atau rencana pengembangan industri strategis atau apapun namanya yang mereka sematkan pada rencana-rencana tersebut? Entahlah. Yang saya lihat, belum ada.
Terkait dengan tulisan yang saya quote di atas, ada hal yang ingin saya coba garis bawahi. Mungkin kerinduan akan pernah majunya industri dirgantara bisa jadi salah satu motivasi untuk membangkitkan kembali industri ini. Tapi, sebenarnya tidak hanya itu. Ada hal lainnya yang lebih substansial. Kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan menuntut tersedianya sarana transportasi dengan kemudahan mobilitas yang tinggi dan cepat. Pengembangan industri dirgantara ini adalah jawabannya. Teknologi dirgantara yang dimiliki Indonesia saya kira sudah cukup kalau hanya untuk menghubungkan antar pulau di Indonesia. Tak perlulah tergiur dengan harga murah yang ditawarkan oleh Cina kepada kita. Secara kualitas apakah mereka sudah mendapatkan sertifikasi? Allahu'alam. Saya mendapat cerita dari salah seorang teman yang kebetulan adalah orang Cina. Orang tuanya bekerja di industri dirgantara di negara tersebut. Diapun mengakui bahwa selama ini yang mereka lakukan hanya membongkar mesin-mesin yang sudah ada lalu memproduksi kembali mesin-mesin tersebut dan melabelinya dengan nama mereka. Sudah sampai di situ saja. Tidak ada proses mendesain ulang, menganalisis, just like that. Dan Indonesia mempercayakan keselamatan rakyat Indonesia pada teknologi yang diolah seperti itu. I mean, have you gone mental? They should consider other things than just the cheap price.
Just a thought that I want to share. I just feel like writing it down when I read the article I mentioned above. One thing for sure, the Indonesian aerospace industry will emerge once again. It may not contend the existance of Airbus or Boeing. But, at least we have our own aerospace industry to fulfill our needs of getting the archipelago connected.
(No more 'Read more')
Read More!